Vonis Ferdy Sambo Tidak Jauh Dari Tuntutan

14

redaksipil – Vonis Ferdy Sambo akan jalani sidang berkaitan kasus pembunuhan pada Brigadir J alias Yosua di PN Jakarta Selatan, Senin (13/2/2023) esok. Dalam sidang vonis itu, nasib bekas Kadiv Propam Polri itu ada di tangan majelis hakim.

Ahli Hukum Pidana Kampus Gadjah Mada (UGM), Muhammad Fatahillah Besar memandang tidak bakal ada banyak ketidaksamaan dari tuntutan dan keputusan atau vonis yang dijatuhkan ke Ferdy Sambo kelak. Hal tersebut didasari pada bukti-bukti persidangan yang sudah ditempuh sejauh ini.

“Ya jika saya pikir sich untuk Ferdy Sambo-nya tidak bisa banyak terjadi ketidaksamaan yang berarti di antara surat gugatan dan surat keputusan karena kita dapat saksikan benar ada point rencana (pembunuhan) bisa dibuktikan,” kata Besar dikontak mass media, Minggu (12/2/2023).

Disamping itu, vonis pada Ferdy Sambo akan diperkokoh dengan beberapa alat bukti. Terhitung pemberatan berkaitan tuduhan pada Sambo berkenaan Obstruction of Justice dalam masalah ini penghancuran CCTV.

“Jadi ada pembunuhan merencanakan plus obstruction of justice penghancuran CCTV. Saya pikir memang hukuman yang paling cocok ya sepanjang umur itu,” katanya

Meskipun memang, Besar sendiri tidak dapat 100 % mengenai vonis pada Ferdy Sambo kelak. Apa akan sama sesuai tuntutan, semakin tinggi atau malah lebih rendah.

Vonis Ferdy Sambo
Vonis Ferdy Sambo

“Tetapi untuk mereduksi pembicaraan mengenai hak asasi manusia kemungkinan sepanjang umur yang hendak diambil hakim,” paparnya.

Besar tidak tutup peluang vonis pada Sambo semakin lebih berat yaitu hukuman mati. Tetapi tentu saja dengan pemikiran hakim menyaksikan beberapa alasan-alasan yang memperberat.

Misalnya tidak kooperatif atau mungkin tidak sampaikan suatu hal sama sesuai bukti. Beberapa hal itu bisa saja point yang memperberat bila nanti Sambo jatuhi hukuman mati.

“Tetapi ya itu kelak pemikiran-pertimbangannya hakim di zaman saat ini jika jatuhkan pidana mati harus sampaikan alasan-alasan memperberat yang selanjutnya jadikan ia pidana mati, tetapi itu bisa saja. Menurut saya dengan ide hukum yang terdapat saat ini dan tercukupinya pembunuhan merencanakan memungkinkannya itu (pidana mati),” jelasnya.

Tetapi di lain sisi, faksinya tidak menolak peluang untuk vonis lebih enteng masih tetap dapat terjadi. Bergantung tidak ada atau adanya argumen atau beberapa poin yang meringkankan dalam kasus ini.

Tidak dapat disangkal jika vonis lebih enteng kelak bisa menjadi sorotan khalayak. Ingat bila hukuman lebih rendah dari tuntuan karenanya bukan ancaman yang maksimal yang diberi.

“Jika saya sich dalam kasus ini cukup cenderung argumen memudahkan nyaris tidak ada untuk FS,” pungkasnya.