Anak yang Terserang Campak Beresiko Alami Infeksi Karena Daya Tahan Tubuh Melemah

18

redaksipil – Terserang Campak Beresiko Alami Infeksi Karena Daya Tahan Tubuh Melemah  yang terjadi di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengutarakan 31 propinsi di Indonesia memberikan laporan Peristiwa Luar Biasa (KLB) penyakit campak. Berrdasar laporan yang didapat Kemenkes, ada 3.341 kasus di 223 kabupaten dan kota.

Ketua Unit Kerja Koordinir Penyakit Infeksi Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Anggraini Alam, SpA(K) menjelaskan anak yang terserang campak benar-benar beresiko tingkatkan infeksi karena turunnya ketahanan tubuh atau anti-bodi.

“Tentu saja pada anak-anak yang tidak divaksinasi terjadi lupa akan ketahanan badan, itu berjalan lumayan lama hingga kebal atau memory kita pada beragam penyakit itu dapat lupa jika terkena campak,” jelasnya beberapa lalu dikutip dari Di antara.

Dia mengingati orang-tua jika penyakit campak jangan diremehkan karena bisa mengakibatkan beragam kompleksitas yang berbuntut kematian.

“Kompleksitas campak itu kemanapun, diawali dari mata, dapat ke jantung. Tersering pneumonia, selanjutnya mulutnya cedera belum juga ia ada diarenya, jika ia nutrisi jelek karena diare ini masalahnya kematian,” kata dr Anggraini.

Dia menjelaskan kematian paling tinggi pada infeksi campak jika telah tiba ke paru atau pneumonia. Angka kematian campak karena penyakit ini dapat disebutkan lebih dari 50 % dekati 90 % kematian.

Terserang Campak Beresiko
Terserang Campak Beresiko

Disamping itu, campak yang diimbangi dengan nutrisi jelek cukup memprihatinkan. UKK penyakit infeksi dan tropik pada tahun 2017 akhir dikejuti dengan angka kematian di Timika dan Baduy yang wafat karena campak dan nutrisi jelek.

“Telah ada peringatan dari WHO, Asia Tenggara memerlukan kecepatan tinggi agar kita pencet campaknya karena banyak yang ketinggalan,” katanya.

Sekarang ini IDAI keluarkan referensi tatalaksana campak, terhitung pada barisan anak yang beresiko campak berat karena tak pernah memperoleh imunisasi dan malnutrisi.

Disamping itu perlu dicurigai pada anak yang mempunyai komorbid dan ketahanan badan yang rendah karena HIV, leukemia dan diabetes melitus.

Tatalaksana yang dapat dilaksanakan bila ada kotoran mata sampai warna hijau dapat diberi salep antibiotik, kompres air hangat saat demam dan penuhi cairan supaya tidak dehidrasi.

“Karenanya IDAI keluarkan referensi tatalaksana campak karena tidak ada antivirusnya,” katanya.