Tanaman Narkotika Opium Meningkat di Myanmar

11

redaksipil – Tanaman Narkotika opium meningkat Federasi Bangsa-Bangsa (PBB) ungkap kenaikan berarti dalam budidaya opium di Myanmar, sesudah junta militer menggantikan kekuasaan di negara itu pada 2021. Budidaya tanaman opium tersebut terus mengalami peningkatan yang tinggi, walaupun hanya dalam waktu 1 tahun terakhir ini.

Dalam laporan terkini dengan judul Myanmar Opium Survei 2022: Cultivation, Production and Implications, Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) menjelaskan budidaya opium bertambah 33 % semenjak militer berkuasa di negara Asia Tenggara itu.

“Musim tanam penuh pertama semenjak pengambilalihan oleh militer memperlihatkan kenaikan 33 % di tempat budidaya jadi 40.100 hektar dan kenaikan kekuatan hasil sejumlah 88 % jadi 790 metrik ton,” begitu laporan UNODC yang diedarkan di situs resminya pada Kamis 26 Januari 2023.

Susul kenaikan moderat di tempat budidaya sejumlah 2 % dan hasil 4 % sepanjang musim 2021, hasil tahun 2022 memverifikasi pengembangan yang berarti sedang berjalan dari ekonomi opium Myanmar, kata UNODC. Kenaikan terkini memperlihatkan pembalikan trend pengurangan dari 2014 ke 2020.

Tanaman Narkotika Opium
Tanaman Narkotika Opium

“Masalah ekonomi, keamanan, dan tata urus yang susul pengambilalihan militer pada Februari 2021 sudah sama-sama bersusun, dan petani di wilayah terasing yang riskan perselisihan di Shan utara dan negara sisi tepian cuma mempunyai sedikit opsi selainnya kembali lagi ke opium,” kata Perwakilan Regional UNODC Jeremy Douglas. Berdasar laporan itu, kenaikan yang paling berarti disampaikan di Negara Sisi Shan, di mana budidaya bertambah sejumlah 39 %, dituruti oleh negara sisi Chin dan Kayah sejumlah 14 % dan 11 %, dan budidaya di Kachin bertambah sejumlah 3 %.

“Perkiraan rerata hasil opium bertambah sejumlah 41 % jadi 19,8 kg/ha – nilai paling tinggi semenjak UNODC mulai hitungnya di tahun 2002 – memperlihatkan praktek pertanian yang makin hebat dan tersedianya pupuk,” kata UNODC dalam laporannya..

Sementara harga yang dibayar ke petani bertambah sejumlah 69 % sepanjang tahun menjadi sekitaran 280 dolar AS (sekitaran Rp4,dua juta) per kg.

“Perkembangan yang kita tonton dalam usaha narkoba terkait langsung dengan kritis yang ditemui negara ini. Efeknya di teritori ini besar sekali, dan negara tetangga perlu memandang dan secara terbuka tangani keadaan itu, dan mereka perlu menimbang beberapa opsi yang susah,” kata Douglas. Nilai regional perdagangan heroin di Myanmar ialah sekitaran 2 miliar dolar AS (nyaris Rp30 triliun) dari sekitaran 10 miliar dolar AS (sekitaran Rp149,7 triliun) di daerah itu.

“Tanpa alternative dan kestabilan ekonomi, penanaman dan produksi opium kemungkinan akan semakin berkembang,” kata Country Manajer UNODC untuk Myanmar Benedikt Hofmann.