Penyebah Utama Jepang Mulai Mengalami Kepunahan

23

redaksipil – Penyebah Utama Jepang mulai mengalami kepunahan yaitu wanita Jepang mulai enggan untuk melakukan pernikahan dan mengatakan akan mendapati tekanan dari berbagai kehidupan, karena terhambat oleh penekanan keuangan dan peranan gender tradisionil yang memaksakan beberapa orang stop bekerja saat hamil. Secara tradisionil, wanita menanggung beban tugas rumah dan pekerjaan mengasuh anak.

Seorang mahasiswa di Tokyo, Nao Iwai mengutarakan jika dianya tidak ingin memiliki anak. Keputusan ini diambil sesudah ia menyaksikan kakak wanitanya yang mempunyai anak berumur 2 tahun.

“Dahulu saya berpikiran jika saya akan menikah pada umur 25 tahun dan jadi seorang ibu pada umur 27 tahun. Tapi saat saya menyaksikan kakak wanita paling tua saya, yang mempunyai anak wanita berumur 2 tahun, saya takut mempunyai anak,” kata Iwai, disampaikan The Guardian.

Iwai menjelaskan, saat punyai anak di Jepang, seorang wanita diharap stop bekerja dan jadi ibu rumah-tangga secara penuh. Wanita mempunyai tanggung-jawab besar untuk jaga dan mendidik anak-anaknya.

“Saya berasa susah untuk memperbesar anak, secara keuangan, psikis dan fisik. Pemerintahan menjelaskan akan memberi support yang lebih bagus untuk keluarga dengan anak kecil, tapi saya tidak begitu yakin pada politikus,” kata Iwai.

Penyebah Utama Jepang
Penyebah Utama Jepang

Seorang profesor di Kampus Sophia di Tokyo, Yuka Minagawa, menjelaskan, tingkat kesuburan yang rendah sebagai tanda-tanda dari perkembangan yang diraih wanita Jepang dalam tahun-tahun ini. Wanita Jepang sukses raih perolehan pengajaran yang lebih bagus dan ada kenaikan jumlah wanita pada tempat kerja. Tetapi resikonya, mereka jadi malas menikah dan mempunyai anak.

“Factor yang kemungkinan mengakibatkan keengganan wanita Jepang untuk menikah ialah bertambahnya ongkos pernikahan,” catat Naohiro Yashiro, seorang profesor di Kampus Wanita Showa, dalam esai untuk website Komunitas Asia Timur.

“Dengan pengajaran yang semakin tinggi, semakin banyak wanita muda yang mempunyai gaji yang serupa dengan lelaki, hingga rerata periode penelusuran pasangan mereka semakin lama. Sekarang ini, rerata umur perkawinan pertama untuk wanita ialah 29 tahun, jauh melebihi 25 tahun pada 1980-an saat mayoritas wanita cuma alumnus SMA,” kata Yashiro.

Komunitas Jepang sebagai negara dengan ekonomi paling besar ke-3 di dunia, turun sepanjang sekian tahun dan alami rekor pengurangan 644.000 pada 2020-2021. Komunitas diprediksi akan jeblok dari 125 juta jadi sekitaran 88 juta pada 2065, atau ada pengurangan 30 % dalam 45 tahun.

Banyaknya orang yang berumur di atas 65 tahun semakin bertambah. Sekarang banyaknya capai lebih dari 28 % komunitas. Seorang wanita Jepang diharap mempunyai rerata 1,3 anak sepanjang hidupnya. Jumlah ini jauh di bawah rerata 2,1 anam yang diperlukan untuk menjaga ukuran komunitas sekarang ini.

Pada 2021, jumlah kelahiran capai 811.604 atau paling rendah semenjak pendataan pertama kalinya dilaksanakan pada 1899. Pengurangan jumlah kelahiran bisa lebih cepat dibanding yang diprediksikan oleh ahli demografi. Kebalikannya, jumlah centenarian capai lebih dari 90.500, dibanding dengan 153 orang pada 1963.