Waspada ! Modus Penculikan Anak Berkedok Rayuan

5

redaksipil – Modus penculikan anak sedang marak terjadi terjadi beberapa waktu terakhir ini, Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) memberi respon beragam informasi mengenai penculikan di sejumlah tempat. Apa lagi, rumor penculikan anak sudah membuat beberapa orangtua jadi cemas.

Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra sampaikan, kasus penculikan anak harus secara holistik. Karena dari tiap kasusnya, penculikan anak bukan kasus yang berdiri dengan sendiri.

“Ada modus kejahatan berjejaring, supaya aktor tidak gampang diendus penegak hukum,” kata Jasra ke Republika, Selasa (31/1/2023).

Jasra menyebutkan ada beragam pemicu anak dicuri dari laporan yang masuk ke KPAI. Seperti persaingan perebutan kuasa asuh anak yang mengikutsertakan susunan keluarga besar, argumen factor ekonomi beragam karena hingga anak jadi agunan, melarikan anak karena pergerakan perselisihan orang dewasa, dibawa orang yang dikenali atau paling dekat karena argumen tertentu.

“Juga bisa untuk aktivitas belas kasih seperti anak anak yang dibawa manusia gerobak dan mengemis,” tutur Jasra.

Jasra mengutamakan, penculikan anak bawa trauma panjang untuk beberapa orang paling dekat. Beberapa ada yang dapat kembali lagi ke dekapan orang tuanya, tapi dengan keadaan trauma yang panjang.

Modus Penculikan Anak
Modus Penculikan Anak

“Ada pula keadaan khusus yang perlu ditemui keluarga saat anak-anak dibalikkan,” tutur Jasra.

Karenanya, KPAI mengingati keutamaan lingkungan ramah anak yang mengikutkan pemantauan bersama. Karena, pelindungan anak dalam sebuah keluarga, lingkungan dan warga tidak dapat tinggalkan peranan seseorang juga disekitaran anak. KPAI ajak semakin banyak warga memerhatikan keadaan anak dan lingkungannya.

“Sekecil apa saja peranan warga dalam turut memantau bersama jadi sisi dalam tingkatkan pelindungan anak dari lingkungan paling dekat,” sebutkan Jasra.

KPAI menyarankan seksi pelindungan anak pada tingkat RT RW. KPAI mengutamakan keutamaan peranan RT RW untuk turut menolong peranan pelindungan anak di lingkungannya.

“RT RW mempunyai peranan hidupkan peranan perintis dan pelapor, karena ini aspek terpenting menghindar kekuatan penculikan semenjak awalnya, karena kita mengetahui anak anak tidak dapat bela dirinya,” tutur Jasra.

Jasra mengharap tidak ada kasus penculikan anak di Indonesia “Mudah-mudahan makin bertambah ruangan aman untuk anak, baik di dalam rumah, keluarga, lingkungan, warga, atau kehidupan sosial media mereka,” kata Jasra.

Rumor penculikan anak di bawah usia di Jakarta dan banyak daerah yang tersebar di sosial media, sudah menggelisahkan warga. Dalam photo yang tersebar di sosial media dinarasikan sasaran korban penculikan sebagai anak-anak dengan bentang umur 1-12 tahun. Faksi kepolisian pastikan, pesan berantai rumor penculikan anak itu berita berbohong atau hoax.