Hasya, Keluarga Korban Tabrak Lari Diteror !

7

redaksipil –  Keluarga korban tabrak lari beberapa waktu ini memberikan pernyataan yang tidak biasa,hal itu dikatakan langsung dari keluarga Hasya, mahasiswa UI yang ditubruk pensiunan polisi memaparkan teror sesudah kasus ini muncul. Dikisahkan kuasa hukum keluarga, Gita Paulina, ke mass media, ada banyak gertakan atau teror yang didapatkan faksi keluarga.

“Kuasa hukum baru dipilih akhir November. Waktu itu, saya diberitahu keluarga, mereka (faksi tersangka polisi) coba langkah gertakan,” kata Gita ke mass media, saat lakukan pertemuan jurnalis, Jumat tempo hari.

Ia menerangkan, gertakan pada keluarga bukan hanya dilaksanakan sekali atau 2x. Berdasar rinciannya, pada gertakan pertama kalinya, ada banyak lelaki yang memaksakan bertandang ke tempat tinggal mendiang Hasya, saat si ibu, Ira, sedang sendirian di dalam rumah.

“Jika keluarga dikunjungi malam-malam sekitaran jam 10 oleh utusan tersangka aktor. Dan keadaan ibu sendirian,” ucapnya.

Tidak sampai di situ, di kali ke-2 , sebagian orang kembali bertandang ke rumah mendiang. Beberapa saat berlalu, hal sama terjadi kembali.

Korban Tabrak Lari
Korban Tabrak Lari

Ini kali, mereka merengsek ke pelataran dan memaksakan masuk rumah saat si adik sedang sendirian. “Tentu saja benar-benar ketakutan dikunjungi banyak lelaki tidak terang penginnya apa,” papar Gita.

Lebih jauh, teror langsung dari faksi kepolisian disebutkan Gita dan Ira didapatkan saat bertandang ke Subditgakkum Pancoran tahun akhir kemarin.

Menurut pembicaraan Ira, dalam tatap muka dengan faksi kepolisian itu, keluarga bawa 5 orang kuasa hukum dari Iluni UI. “Tetapi kami dipisah dan kami cuma berdua (suami-istri) dengan beberapa polisi,” kata Ira.

Ia menyebutkan, faksi kepolisian waktu itu mau tak mau pisahkan dianya dan suami dengan kuasa hukum. Tidak itu saja, faksi kepolisian, kata Ira ke mass media, mengamankan pintu ruang yang dimasuki dan tidak membolehkan kuasa hukum masuk.

“Saya tidak ngomong diancam, tetapi seperti disidang. Saya berpikir harus membawa pengacara saya. Saya ngomong tidak mau ke toilet, saya ingin keluar (dari ruang),” ucapnya.

Ira, menampik untuk berdamai saat tatap muka dengan kepolisian dan beberapa pejabat polisi itu terjadi. Walau tersangka penabrak lari, yang disebut pensiunan polisi datang di ruangan terpisah, Ira dan Gita akui tidak sempat disandingkan dengan tersangka.

Lebih jauh, Gita menambah, argumen kuasa hukum tidak dibolehkan masuk oleh faksi kepolisian karena orangtua mendiang Hasya sedang sharing dengan polisi. Menyimpan berprasangka buruk, Gita akui geram dan sedih.

“Saya bingung kenapa curhatnya dalam dan digembok. Saya percaya air matanya telah banyak tumpah, tidak perlu sharing,” keluh Gita.