Kejanggalan Atas Kasus Hasya Atallah Diungkap

9

redaksipil – Kasus Hasya Atallah atau lengkapnya Muhammad Hasya Atallah Saputra, mahasiswa Kampus Indonesia (UI) jadi terdakwa berkaitan kasus kecelakaan yang mengikutsertakan bekas Kapolsek Cilincing AKBP (Purn) Eko Setia Budi Wahono. Kuasa hukum dan keluarga bingung, mengapa Hasya yang jadi terdakwa oleh polisi, walau sebenarnya dia korban yang ditubruk lari oleh Eko sampai wafat.

Gita Paulina salah satunya kuasa hukum keluarga ungkap keganjilan penentuan Hasya sebagai terdakwa dan pemberhentian penyidikan kasusnya (SP3).

Sesudah Hasya disemayamkan pada 7 Oktober 2022, Adi ayah dari Hasya membuat laporan ke Polres Metro Jakarta Selatan pada 19 Oktober 2023.

“Yang selanjutnya mendapat info telah ada LP yang dibikin atas ide polisi yakni Nomor: LP/A/585/X/2022/SPKT SATLANTAS POLRES METRO Jakarta Selatan tanggal 7 Oktober 2022 (LP 585),” kata Gita ke reporter di Universitas UI Salemba, Jakarta Pusat pada Jumat (27/1/2023).

Tetapi Adi masih tetap bersikeras membuat laporan atas kematiannya si anak, sampai pada akhirnya diterima dengan Surat Pertanda Akseptasi Laporan No. 1497.X/2022/LLJS (LP 1497).

“Sekarang ini, LP 1497 itu tidak ada tindak lanjut dari polisi. Kebalikannya, pada LP 585 sudah dilakukan tindakan oleh faksi Polres Metro Jaksel walau ada banyak hal yang dikerjakan yang tidak sesuai ketetapan yang berjalan,” ungkapkan Gita.

Kasus Hasya Atallah
Kasus Hasya Atallah

Karena ada keganjilan, di proses penyidikan di Polres Metro Jakarta Selatan, team kuasa hukum mengirim surat Gelar Kasus Khusus tanggal 13 Januari 2023, yang terterima oleh Polres Jaksel pada Senin (16/1).

Satu hari berlalu, yaitu pada Selasa sore 17 Januari, mendadak kepolisian mengirim Surat Pernyataan Perubahan Hasil Penyidikan (SP2HP), kasus Kecelakaan Lalu Lintasi No. B/42/I/2023/LLJS, tanggal 16 Januari 2023.

Surat dibarengi tambahan Surat Perintah Pemberhentian Penyelidikan (SP3) No. B/17/2023/LLJS tanggal 16 Januari 2023. “Pada dasarnya mengatakan pemberhentian LP 585, disetop karena terdakwa dalam tindak pidana itu sudah wafat,” tutur Gita.

Selanjutnya masih pada 17 Januari 2023 malam hari, keluarga kembali mendapatkan SP2HP dari kepolisian.

“Bedanya ialah, SP2HP (Surat Pernyataan Perubahan Hasil Penyelidikan) yang diterima pada sore hari oleh keluarga belum ada stempel Satlantas Polres Jaksel. Sementara yang malam hari, SP2HP itu telah dibubuhi stempel Satlantas Polres Jaksel,” ungkapkan Gita.

Adapun Pasal yang didugakan ke Hasya, yaituPasal 310 ayat (3) dan (4) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 mengenai Lalu Lintasi dan Angkutan Jalan (“UU Lalu Lintasi”). Jika Pasal 310 ayat (3) dan (4) UU Lalu Lintasi mengatakan:

1. Tiap orang yang menyetir Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintasi dengan korban cedera berat seperti diartikan dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda terbanyak Rp10 juta.

2. Dalam soal kecelakaan seperti diartikan pada ayat (3) yang menyebabkan seseorang wafat, dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda terbanyak Rp12 juta.

Urutan Kecelakaan Versus Keluarga

Adi Syaputra, ayah dari Hasya sempat menerangkan urutan kecelakaan yang menerpa anaknya sampai meninggal di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Adi menjelaskan waktu itu pada 6 Oktober 2022 anaknya barusan pulang dari aktivitas universitas ke arah kamar kosnya. Saat diperjalanan, korban jatuh karena ada orang yang seberang jalan secara mendadak.

“Mendadak ada yang lewat, automatis ngerem tiba-tiba. Nach itu terus kaya goyang getho karena rem tiba-tiba. Nach terus jatuh ke kanan,” sebut Adi saat dikontak, Jumat (25/11/2022).

Dari arah bersimpangan, mobil Pajero yang dikendarai oleh Eko lantas menubruk dan menggilas korban yang jatuh di jalan. Adi menjelaskan anaknya tidak berkendaraan secara kebut-kebutan karena sepeda motor korban cuma sedikit alami kerusakan.

“Ada mobil dari depan dalam perhitungan sepersekian detik. Status tidak begitu lamban dan kuat, ya sedanglah. Kami dapat ngomong begitu karena motornya juga sekarang ini cuma pecah kaca spion, tidak ada lecet dan baret,” terang Adi.

Selesai menubruk korban, Eko disebutkan stop di lokasi kecelakaan tetapi menampik membantu korban. “Orangnya ada kok, diminta membawa ke rumah sakit ia tidak mau,” tutur Adi.

Seseorang rekan korban waktu itu telah coba minta bantuan ke Eko. Akhirnya, korban juga tergeletak dengan keadaan berdarah di tepi jalan.

“Stop dimintan tolong sama rekan-rekan mendiang untuk bawa ke rumah sakit ia tidak mau. Sempat tergeletak anak saya 20-30 menit di tepi jalan,” narasi Adi.

Urutan Versus Polisi

Kasat Lalu Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Joko Sutriono saat diverifikasi, Sabtu (26/11/2022) lalu menyebutkan bekas Kapolsek Cilincing AKBP (purn) Eko Setia Budi Wahono tidak menubruk Hasya.

“Bukan penabrak, bukan terlindas,” katanya.

Ia ngomong mahasiswa UI itu malah akan menyerobot lajur yang dilalui Eko karena menghindar kubangan air. Waktu itu, korban diperhitungkan tidak dapat mengontrol kendarannya lalu jatuh.

“Malah justru sang motor mengambil lajur ke kanan. Sebetulnya motor itu menghindar air jadi ngerem tiba-tiba. Ngerem tiba-tiba oleng jatuh motornya ke kiri, orangnya cocok terkena Pajero melalui,” claim Joko.

“Bersamaan dengan tubuh ia terkena mobil cocok melalui Sang Pajero,” paparnya.