Irjen Teddy Minahasa Pamer Prestasi Depan Hakim

11

redaksipilIrjen Teddy Minahasa, tersangka kasus penilapan dan penyebaran tanda bukti sabu minta majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat menampik semua tuduhan beskal penuntut umum (JPU) dan melepaskan dianya dari tahanan. Argumennya, karena tuduhan beskal dipandang prematur hingga perlu diurungkan untuk hukum.

“Supaya tersangka Teddy Minahasa Putra bin H. Abu Bakar (mendiang) selekasnya dibebaskan dari tahanan sesudah keputusan
diucap,” kata kuasa hukum Teddy saat membacakan eksepsi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (2/2/2023).

Dalam eksepsi atau jawaban atas tuduhan beskal, Teddy lewat kuasa hukumnya memaparkan beberapa prestasi sepanjang 30 tahun berkarier di Polri. Dimulai dari jadi ajudan individu Joko Widodo alias Jokowi saat jadi capres di Pilres 2014 sampai pengawal Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Disamping itu, Teddy mengeklaim pernah jadi pimpinan team khusus untuk lakukan penangkapan penyelinapan narkotika di Laut Cina Selatan.

Selanjutnya Teddy disebutkan menjadi satu diantara perwira tinggi Polri yang memperoleh gelar Pertanda Jasa dan Kehormatan dari Presiden Republik Indonesia dengan memperoleh keseluruhan 24 pertanda jasa dan pertanda kehormatan.

“Jika tersangka (Teddy) didakwa sebagai sisi dari jaringan, bandar atau mafia narkoba mustahil karier Tersangka dapat demikian berkilau, karena Tubuh Narkotika Nasional (BNN), Tubuh Intelijen Negara (BIN) dan Mabes Polri tentu sudah dilaksanakan profil pada diri tersangka,” papar kuasa hukum Teddy.

“Tersangka berasa ada ‘siasat’ untuk jatuhkan dianya di tengah-tengah kariernya yang sedang melesat,” paparnya.

Irjen Teddy Minahasa
Irjen Teddy Minahasa

Terima SGD27 Ribu

Beskal awalnya menyebutkan Teddy terima uang hasil pemasaran satu kg tanda bukti sabu sebesar SGD 27.300 atau sama dengan Rp300 juta. Uang itu diberikan oleh bekas Kapolres Bukittinggi AKBP Doddy Prawiranegara langsung ke Teddy di tempat tinggalnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada 29 September 2022.

“Dody Prawiranegara memberikan paper bag kecil yang berisi mata uang singapura beberapa 27.300 SGD ke tersangka hasil dari pemasaran narkotika tipe sabu,” kata beskal di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (2/2/2023).

Seterusnya, kata beskal, pada 3 Oktober 2022 Doddy memerintah Syamsul Maarif untuk memberikan kembali dua kg sabu ke Linda Pujiastuti alias Anita Cepu. Atas setahu Teddy dua kg sabu itu disetujui dipasarkan dengan harga Rp320 juta perkilogramnya.

“Tersangka (Teddy)mengatakan ‘berarti 720 juta ya mas’ dan saksi Doddy Prawiranegara menjawab ‘siap jenderal’, lalu tersangka menjawab ‘ya telah pekan kedepan saja’,” papar beskal.

Beskal sampaikan jika Linda alias Anita Cepu sempat memberikan laporan ke Teddy jika dianya sudah terima uang hasil pemasaran sabu sejumlah Rp200 juta dari keseluruhan Rp720 juta. Sampai pada akhirannya Anita cepu ketangkap saat sebelum sabu itu terjual habis.